Monday, March 24, 2008

RACUN ORGANOKLORIN DALAM PESTISIDA

A. PESTISIDA
Pestisida merupakan substansi kimia yang umum digunakan sebagai pengontrol organisme yang tidak diinginkan. Mengingat kebutuhan dan kegunaan pestisida, maka telah banyak produk pestisida yang beredar dimasyarakat, dimana masing-masing jenis memiliki fungsi dan sifat toksik yang berbeda-beda. Disamping dapat membantu manusia dalam usaha mengatasi gangguan hama dan penyakit, ternyata penerapan pestisida memberi pengaruh besar terhadap organisme atau lingkungan lain yang bukan merupakan sasaran. Secara umum dijelaskan bahwa pestisida dapat menyebabkan mortalitas, menghambat pertumbuhan dan reproduksi organisme invertebrata laut dan mempengaruhi pertumbuhan manusia.
1. Keuntungan Pestisida
n Dapat diaplikasikan secara mudah
n Dapat diaplikasikan hampir disetiap tempat dan waktu
n Hasilnya dapat dilihat dalam waktu singkat
n Dapat diaplikasikan dalam areal yang luas dalam waktu singkat
n Mudah diperoleh, dapat dijumpai di kios-kios pedesaan sampai pasar swalayan di kota besar
2. Kerugian Pestisida
n Keracunan dan kematian pada manusia
n Keracunan dan kematian pada ternak dan hewan piaraan
n Keracunan dan kematian pada satwa liar
n Keracunan dan kematian pada ikan dan biota air lainnya
n Keracunan dan kematian pada biota tanah
n Keracunan dan kematian pada tanaman
n Keracunan dan kematian pada musuh alami OPT
n Terjadinya resistensi, resurjensi dan perubahan status OPT
n Pencemaran lingkungan hidup
n Residu pestisida yang berdampak negatif terhadap konsumen, dan
n Terhambatnya perdagangan hasil pertanian
3. Pestisida menurut organisme sasaran :
• Rodentisida
contoh : arsen trioksida, seng fosfida, fosforus,dll
• Insektisida
contoh : DDT, malation, sevin, nilvar, sevicar, dll
• Herbisida
contoh : amonium sulfamat, borat, natrium klorat, arsenik, triazil, urazil,dll
• Fungisida dan bakterisida
contoh : sulfur, kuprum, merkuri, karbamat
• Nematisida
contoh :Metil bromida, metil isosianat (MIT), dazomet, dll
• Zat pengatur tumbuh
• Defolian
4. Penggolongan Pestisida berdasarkan bahan pembentuknya :
  1. Hidrokarbon terhalogenasi (organoklorin)
Satu halogen (klorin atau bromin) dengan satu cincin benzena atau rantai karbon.
Contoh : Aldrin, Dieldrin, Chlordane, DDT, Kepone
Sifat umum :
Kelarutan rendah dalam air, lipofilitas tinggi, persisten dalam lingkungan alamiah, terbioakumulasi dalam makhluk hidup dan terbiomagnifikasi melalui rantai makanan.
Cara kerja:
Depresant sistem syaraf pusat, kerusakan jaringan liver dan ginjal
b. Organofosfat
Satu fosfat radikal dengan satu cincin benzena atau rantai karbon.
Contoh : Parathion, Malathion, Methylparathion, Leptophos, Diazinon, dll.
Sifat umum :
Persistensi terbatas dalam lingkungan alamiah, larut dalam air, tidak terbioakumulasi dlm makhluk hidup dan tidak terbiomagnifikasi melalui rantai makanan.
Cara kerja :
Inhibisi enzim kholinesterase pada sistem syaraf pusat
  1. Karbamat
Satu karbon radikal, ikatan ganda dengan oksigen, terikat pd nitrogen, satu karbon dgn satu cincin benzena atau rantai karbon.
Contoh : Baygon, Carbaryl, Molom, Temil, Zectron, dll.
Cara kerja :
Inhibisi enzim kholinesterase pada sistem syaraf pusat
  1. Logam
Mengkombinasikan satu logam (timah hitam / mangan/sulfur/merkuri/ arsen) dengan satu cincin benzene atau rantai karbon.
Contoh : Maneb, Systox, Lead arsenate, arsenik trioksida, dll
  1. Pestisida Lain
komposisi kimianya sangat bervariasi, toksisitasnya sangat spesifik.
5. Jenis Keracunan pestisida organofosfat dan organoklorin
* Keracunan Pestisida Organofosfat
1. Keracunan Akut
a. Manifestasi muscarinik
– Gejala pencernakan (mual, muntah)
– Aktifitas kelenjar keringat, ludah dan air mata meningkat
Ketajaman mata berkurang dan pin point pupil
b. Manifestasi nikotinik
– Sesak nafas
– Kram pada otot tertentu
– Cyanosis
c. Manifestasi susunan syaraf pusat
– Kesukaran tidur
– Depresi
– Gangguan peredaran darah
2. Keracunan kronis
a. Karsinogenik
b. Teratogenik
c. Myopathi
d. Gangguan kejiwaan
* Keracunan Pestisida Organoklorin
1. Keracunan Akut Menyerang susunan syaraf pusat
2. Keracunan kronis
a. Karsinogenik
b. Pirphyria (hiperpigmentasi)
c. Neurotoksik
d. Impotensi, infertilitas
e. Mempengaruhi janin
6. Pengendalian Pencemaran Pestisida :
a. Supervisi medik
b. Pengetrapan labeling
c. Pendidikan kesehatan dan pelatihan
d. Penggunaan alat pelindung diri
Dari berbagai macam jenis pestisida kami akan membahas tentang toksisitas dari pestisida yang tergolong sebagai Organoklorin:
B. ORGANOKLORIN
Pestisida Organoklorin atau biasa disebut juga sebagai hidrokarbon berklorin, merupakan jenis pestisida yang tidak mudah larut dalam air, namun mudah larut dalam minyak. Pestisida organoklorin merupakan jenis pestisida yang tidak mudah terurai di alam setelah digunakan, penggunaan pestisida organoklorin telah dilarang oleh pemerintah sejak tahun 1971 karena sifatnya yang persisten sehingga akan dapat menimbulkan dampak negative yang besar tehadap lingkungan dan mahluk hidup sekitarnya.
Contoh pestisida organoklorin yang sering digunakan dalam kehidupan;
  • Aldrin
  • Dieldrin dicofol
  • Endosulfan
  • Endrin chlordane
  • DDT
  • Heptaklor
  • Lindane
  • Benzane hexacloride (BHC)
Contoh di atas dapat digolongkan sebagai senyawa aktif yang terkandung pada jenis-jenis pestisida organoklorin dengan toksisitas yang berbeda.
Berdasarkan Toksisitasnya dapat digolongkan sebagai berikut:
  1. sangat toksik
aldrin, endosulfan, dieldrin
  1. toksik sederhana
Clordane, DDT,lindane, heptaklor
  1. kurang toksik
Benzane hexacloride (BHC)
Keracunan karena senyawa organoklorin seringkali terjadi, pada umunya keracuan terjadi karena adanya kontak secara langsung dengan racun jenis ini. Apabila keracunan, pada umumnya racun ini langsung menyerang pada syaraf pusat yang dapat menyebabkan kejang ataupun bisa menyebabkan koma, sesak nafas, serta bisa juga berujung pada maut.
Organoklorin masuk ke tubuh korban melalui kulit, bahan racun dapat memasuki pori-pori atau terserap langsung ke dalam sistem tubuh, terutama bahan yang larut minyak (polar). Melalui mulut, racun dapat terserap seperti halnya makanan, langsung masuk peredaran darah. Melalui saluran pernapasan racun dapat terserap ke dalam sistem tubuh dan dapat langsung mempengaruhi sistem pernapasan (pengambilan oksigen dan pembuangan CO2). Pengaruh racun dapat timbul segera setelah masuknya racun (acute toxicity), dalam hal ini racun tersebut racun akut. Gejala keracunan dapat pula terjadi lambat, setelah beberapa bulan atau beberapa tahun – dan di bahan racun penyebabnya disebut racun kronis (chronic toxicity). Racun jenis organokhlorin atau hidrokarboberkhlor seperti DDT, Chlordan, Lindane dll. merupakan racun kronis yang baru terasa efeknya setelah bertahun-tahun karena diperlukan waktu yang lama untuk menumpuk (akumulasi) racun ini dalam lemak tubuh. Sebaliknya, racun akut yang sebagian besar terdiri dari senyawa-senyawa larut dalam air bekerja sangat cepat tapi tidak bersifat akumulatif dan mudah tercuci serta terurai menjadi komponen yang tidak beracun.
RACUN KRONIS
Racun kronis menimbulkan gejala keracunan setelah waktu yang relatif lama karena kemampuannya menumpuk (akumulasi) dalam lemak yang terkandung dalam tubuh. Racun ini juga apabila mencemari lingkungan (air, tanah) akan meninggalkan residu yang sangat sulit untuk dirombak atau dirubah menjadi zat yang tidak beracun, karena kuatnya ikatan kimianya. Ada di antara racun ini yang dapat dirombak oleh kondisi tanah tapi hasil rombakan masih juga merupakan racun. Demikian pula halnya, ada yang dapat terurai di dalam tubuh manusia atau hewan tapi menghasilkan metabolit yang juga masih beracun. Seperti racun organoklorin, Dieldrin yang disemprotkan dipermukaan tanah untuk menghindari serangan rayap tidak akan berubah selama 50 tahun sehingga praktis tanah tersebut menjadi tercemar untuk berpuluh-puluh tahun. Dieldrin ini bisa diserap oleh tumbuhan yang tumbuh di tempat ini dan bila rumput ini dimakan oleh ternak misalnya sapi perah maka dieldrin dapat menumpuk dalam sapi tersebut yang kemudian dikeluarkan dalam susu perah. Manusia yang minum susu ini selanjutnya akan menumpuk dieldrin dalam lemak tubuhnya dan kemudian akan keracunan. Jadi dieldrin yang mencemari lingkungan ini tidak akan hilang dari lingkungan, mungkin untuk waktu yang sangat lama.
Racun kronis sangat berbahaya bagi lingkungan karena daya bertahannya (residual effects) yang sangat lama disebabkan sukar terurai sehingga sekali racun ini digunakan ia akan berada dalam lingkungan untuk waktu yang sangat lama sampai berpuluh-puluh tahun. Sebagai contoh, Ddt tidak terurai oleh sinar matahari ataupun sinar ultraviolet. Tekanan uapnya 1.5 x 10 -7 mm Hg -- demikian rendahnya sehingga DDT merupakan racun yang sangat besar efek residunya. Salah satu sifat buruk DDT dan pestisida-pestisida organokhlorin lainnya adalah kecenderungannya untuk menempel pada lemak (lipofilik), sebagaimana telah disinggung di atas. Pestisida golongan organokhlorin dan senyawa-senyawa heterosiklin yang bersifat racun kronis kuat adalah: DDT, Rothane, Dilan, Kelthane, gamma BHC, Chlordane, Heptachlor, Aldrin, Endrin, Toxaphene, Strobane, Kepone dan Mirex. Daya larut bahan-bahan racun ini dalam air sangat rendah: DDT hanya 0,2 part per billion (ppb).
picture of 3 DDT molecules
Struktur Racun DDT yang tergolong senyawa organoklorin
Dosis yang menyebabkan keracunan:
  • 1 gr lindane yang terkonsumsi oleh anak-anak akan menyebabkan kejang.
  • 10-30 gr terkonsumsi pada orang dewasa akan mendatangkan maut.
  • 3-7 gr Aldrin dan klordane dan 2-5 gr dieldrin yang terkonsumsi oleh anak-anak dan orang dewasa dapat mendatangkan maut.
Ciri-ciri keracunan Organoklorin:
  • orang yang terkena racun organoklorin pada awalnya akan mengalami mual hingga muntah-muntah yang kemudian disusul dengan jeritan-jeritan, kebingungan, mengalami ketakutan, menggigil, kejang, gangguan pernafasan, koma dan dimungkinkan untuk meninggal.
  • Organoklorin yang terkonsumsi dalam tubuh akan merusak hati serta buah pinggang yang memiliki kandungan lemak yang tinggi, hal ini dikarenakan organoklorin mudah larut dalam minyak yang juga termasuk dalam golongan lemak yang pada akhirnya akan menyebabkan penyakit kanker pada manusia.
  • Keracunan akut dari organoklorin dapat langsung menyebabkan sesak nafas, sehingga korban perlu untuk diberikan nafas buatan.
C. PERTOLONGAN KORBAN KERACUNAN PESTISIDA
Pertolongan pertama pada korban keracunan
Tindakan pada kasus keracunan bila tidak ada tenaga dokter di tempat adalah
sebagai berikut:
Ø Tentukan secara global apakah kasus merupakan keracunan
Ø Bawa penderita segera ke rumah sakit, terutama bila tidak sadar Sebelum penderita dibawa kerumah sakit, mungkin ada beberapa hal yang perlu dilakukan bila terjadi keadaan sebagai berikut:
Ø Bila zat kimia terkena kulit, cucilah segera (sebelum dibawa kerumah sakit) dengan sabun dan air yang banyak. Begitu pula bila kena mata (air saja). Jangan menggunakan zat pembersih lain selain air.
Ø Bila penderita tidak benafas dan badan masih hangat, lakukan pernafasan buatan sampai dapat bernafas sendiri, sambil dibawa ke rumah sakit terdekat. Bila tanda-tanda bahwa insektisida merupakan penyebab, tidak dibenarkan meniup ke dalam mulut penderita.
Ø Bila racun tertelan dalam batas 4 jam, cobalah memuntahkan penderita bila sadar. Memuntahkan dapat dengan merogoh tenggorokan (jangan sampai melukai).
Ø Bila sadar, penderita dapat diberi norit yang digerus sebanyak 40 tablet, diaduk dengan air secukupnya.
Ø Semua keracunan harus dianggap berbahaya sampai terbukti bahwa kasusnya tidak berbahaya.
Ø Simpanlah muntahan dan urin (bila dapat ditampung) untuk diserahkan kepada rumah sakit yang merawatnya.
Ø Bila kejang, diperlakukan seperti dibahas di atas.

Diambil dan dirangkum dari;
MANSUR,DAKK. Jurnal Toksikologi Dan Distribusi Agent Toksis Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Soedjajadi Keman. Pengantar Toksikologi Lingkungan. Bahan Ajar. Surabaya. Bagian Ilmu Kesehatan Lingkungan. FKM. Unair. 2003.
Tarumingkeng, Rudy C. Jurnal DDT dan permasalahannya di ABAD 21.
RUT, DRN-LIPI.

No comments: